back to blog homepage

Strategi Menciptakan Produk Digital Terlaris di LYNK.ID

Salah satu indikator paling jelas dari produk digital, terutama e-book yang kualitasnya meragukan bisa dilihat dari konten promosinya yang beredar di media sosial.

Alih-alih menjelaskan dengan lugas manfaat apa yang akan diterima pembeli setelah membaca e-book tersebut, penjual justru lebih fokus pada ajakan untuk segera membeli (call to action) yang berulang-ulang, tanpa substansi.

Dalam banyak kasus, narasi promosinya bahkan hanya berputar di sekitar pencapaian pribadi: Aku berhasil menghasilkan jutaan rupiah dari e-book ini.

Masalahnya, angka-angka itu tidak serta merta relevan bagi calon pembeli yang belum tahu apakah isi e-book tersebut benar-benar layak untuk dikonsumsi.

Strategi seperti ini memperlihatkan bahwa yang dijual bukanlah nilai dari isi e-book tersebut, melainkan mimpi instan tentang cepat kaya. Padahal, produk digital yang berkualitas selalu dimulai dari satu hal: apa yang akan berubah dalam hidup pembeli setelah membeli produk ini?

So, gimana sebaiknya jika kita ingin membuat produk digital yang berkualitas dan tetap laris manis di pasaran? Simak strategi berikut ini!

1. Ciptakan Produk Digital yang Ethical

Jualan produk digital bukan cuma soal cuan. Tapi juga soal niat baik, kualitas, dan tanggung jawab ke pembeli. 

Saat ini, dengan platform seperti LYNK.ID, siapa pun bisa jadi kreator produk digital. Oleh karena itu, penting banget buat kamu mengerti gimana caranya bikin produk digital yang bermanfaat dan tetap mengusung etika bisnis digital (ethical).

Ethical artinya berpegang pada prinsip jujur, adil, gak menipu, dan tidak merugikan pihak lain. Intinya, produkmu boleh laris, tapi prosesnya juga harus bersih dan berkah.

Berikut contoh produk digital yang ethical
  • E-book dengan desain rapi, isi jelas, dan sesuai judul
  • Course yang ngasih real value, bukan cuma “kata-kata motivasi”
  • Template yang bisa langsung dipakai dan bukan hasil jiplakan
  • Produk dengan hak cipta dan konten orisinal
  • Kalau perlu bergaransi. Apabila produk tidak bermanfaat uang bisa kembali.
Berikut contoh produk digital yang unethical
  • Deskripsi produk tak sesuai kenyataan
  • Isi e-book dan course tidak berbobot, hanya berisi motivasi bukan solusi nyata
  • Desain menggunakan elemen canva gratisan yang punya watermark, tapi dijual mahal
  • Menggunakan testimoni editan dan janji bombastis kayak closing 2 digit dalam seminggu

2. Jangan Jual Produk Yang Kamu Sendiri Gak Mau Beli

Sekarang banyak banget beredar paket produk digital berupa e-book yang dijual oleh kreator lynk.id yang menurutku sangat tidak layak untuk dijual kembali. Meskipun mereka memberi label hak jual kembali.

Jika kamu adalah seorang profesional di bidang tertentu, kemudian kamu hanya mengubah nama kamu saja di e-book tersebut, tanpa melakukan quality control terhadap produk digital yang akan kamu pasarkan. Dampaknya bisa menghancurkan reputasi kamu.

Selain e-book, aku juga pernah menemukan produk digital berupa spreadsheet Excel yang dipromosikan sebagai tools. Setelah dibeli, ternyata isinya hanya kumpulan prompt ChatGPT yang disusun dalam beberapa sheet.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjual kumpulan prompt selama pembeli mengetahui apa yang akan didapatkan. Namun, menurutku akan lebih transparan jika produk tersebut disebut sebagai template prompt atau prompt library, bukan sebagai sebuah tools.

Tools spreadsheet tersebut dijual dengan harga di atas 50K, padahal jika kita mau, kita bisa membuatnya sendiri dan gratis! Karena simply menggunakan kemampuan prompting dan excel saja. Dan menurutku, setelah melihat cara penggunaannya lebih baik langsung tanya saja ke ChatGPT tanpa harus menggunakan tools tersebut.

3. Pengalaman Mencoba Produk Digital Abal-abal

Aku pernah melakukan riset kecil-kecilan dan coba membeli e-book mengenai strategi viral di media sosial seharga IDR 59K, tapi ternyata:

1. Desain Menggunakan Canva Free Version

Desain di dalam e-book tersebut menggunakan Canva free version. 

Dibuktikan dengan penggunaan elemen yang masih ada watermark-nya. 

Sungguh kelihatan tidak profesional dan terkesan tidak serius alias gak modal;

2. Layout Berantakan

Layout-nya berantakan dan tidak nyaman dipandang mata. Padahal e-book ini dipromosikan oleh seseorang yang mengaku sebagai graphic designer.

3. Daftar Isi Tidak Sesuai Dengan Isi Buku

Jadi, daftar isi tidak mencerminkan isi buku. Sungguh mengecewakan!

Walaupun isinya masih bisa dimengerti, tapi menurutku nggak sebanding dengan harga IDR 59K. Karena menurutku seluruh isinya bisa aku browsing sendiri. Materi yang disajikan juga tidak practical.  

Yang dibutuhkan pembaca adalah solusi nyata dari masalah yang diangkat menjadi judul e-book tersebut. Namun, materi yang disajikan hanya poin-poin yang sudah menjadi rahasia umum tentang social media sehingga kurang tepat sasaran.

Selain itu, e-book tersebut jadi kurang bernilai karena tidak mempunyai USP atau Unique Selling Point yang membedakan e-book tersebut dengan e-book lainnya yang dijual di pasaran.

4. Harga Terlalu Mahal untuk Isi Yang Kurang Berbobot

Kembali soal harga IDR 59K. Sebagai pembeli, aku tentu akan merasa lebih untung jika membeli buku dengan topik yang sama di toko buku offline seperti Gramedia. Karena sudah dapat buku cetaknya, isinya juga pasti terjamin karena sudah melewati proof-read dari editor.

Padahal e-book ini aku beli dari orang yang melabeli dirinya sebagai freelance graphic designer berpengalaman. Sejauh yang bisa kuamati dari produknya, orang tersebut membeli paket e-book dan hanya mengganti nama dan sampulnya saja.

Menurutku praktik seperti ini justru membuat reputasi orang tersebut menurun di mata publik. Karena e-book yang dijualnya memiliki layout yang berantakan. Dari segi tampilan sangat tidak mencerminkan bahwa e-book tersebut dibuat oleh seorang graphic designer.

Kalau kamu sendiri aja gak rela beli produkmu, jangan harap orang lain percaya untuk membelinya.

Buat aku, pengalaman itu ngasih pelajaran penting, jangan asal beli produk digital yang menawarkan hak jual kembali.

Lebih baik kamu ciptakan sendiri produk digital yang kualitas serta harganya sepadan dengan nilai yang ditawarkan. Pastikan kamu juga merasa puas dengan isinya dan rela membelinya jika kamu ada di posisi pembeli.

4. Pembeli Adalah Raja, Jangan Remehkan Calon Pembeli

Strategi selanjutnya adalah jangan pernah menganggap remeh calon pembeli atau user produkmu.

Artinya, kamu justru harus menganggap calon customer adalah orang yang lebih pintar, lebih berpendidikan, atau bahkan lebih kaya daripada kita dari segi apapun.

Hal ini menjadi penting karena kamu akan terus berusaha memberikan yang terbaik dalam proses produksi. Kamu tahu bahwa produkmu memang dikonsumsi oleh orang-orang yang berkualitas. 

Bayangkan juga betapa kecewanya customer, jika mereka adalah orang-orang yang benar-benar ingin belajar dari e-book yang kamu tulis. Tapi yang mereka dapatkan justru e-book yang isinya zonk dan kurang menjawab masalah yang dihadapinya. Sungguh mengecewakan!

Tak sampai di situ, customer juga akan menganggap kamu sebagai penipu. Karena apa yang kamu jual adalah tipuan semata. Itulah akibat menjual produk digital dengan kualitas yang jauh berbeda dengan janji promosi yang diberikan.

5. Promosikan Dengan Menarik dan Jujur Agar Pendapatannya Halal

Jika ingin menjual produk digital, pastikan kamu serius dalam menilai kualitas produk yang dijual. Kemudian promosikanlah secara menarik, tampilkan sinopsis e-bookmu dengan jujur. Deskripsikan value apa yang bisa customer dapatkan jika membeli produkmu.

Transparansi dalam penjualan sangat penting. Agar pendapatanmu halal.

Hindari membuat video yang hanya berisi CTA dan menunjukkan penghasilan kamu.

Percayalah, customer tidak peduli berapa penghasilan kamu, yang mereka pedulikan adalah apakah kamu bisa menjawab permasalahan mereka lewat produk yang kamu jual.

Pada akhirnya, produk digital bukan sekadar file yang berhasil terjual, tetapi solusi yang benar-benar membantu orang lain. Jangan tergoda mengejar keuntungan sesaat dengan menjual produk yang asal jadi atau sekadar hasil menyalin karya orang lain.

Pembeli mungkin hanya membayar sekali, tetapi kepercayaan mereka bisa bertahan bertahun-tahun atau hilang selamanya.

Sebelum menekan tombol publish, tanyakan pada diri sendiri: "Kalau aku yang menjadi pembeli, apakah aku akan merasa puas setelah mengeluarkan uang untuk produk ini?" Jika jawabannya masih ragu, berarti produk tersebut masih perlu pengembangan atau bahkan tidak perlu dipublikasikan untuk dijual.

Ingat, produk digital terbaik bukanlah yang paling cepat menghasilkan uang, melainkan yang paling sering direkomendasikan oleh pembelinya tanpa diminta.

Ketika orang berkata, "Beli deh produk ini, isinya benar-benar bermanfaat," saat itulah Anda telah membangun aset yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka penjualan: kepercayaan. 

Dalam bisnis digital, kepercayaan adalah modal yang akan terus menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

Belajar Digital Skills di Tiktok Suci Wulan Lestary 

back to blog homepage
error: Content is protected !!